SELAMAT DATANG DAN TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI

Senin, 22 Agustus 2011

Satuan Acara Penyuluhan Sistim Pesarafan Stroke Non hemoragik



Satuan Acara Penyuluhan
                                                                                          
Topik              : Sistim Pesarafan
Subtopik         : Stroke Non hemoragik
A.    Tujuan
  1. Tujuan Umum
Setelah penyuluhan diharapkan pasien dan keluarga dapat memahami tentang penyakit Stroke .
  1. Tujuan Khusus
Agar pasien dan keluarga dapat
-   Menyebutkan pengertian dari penyakit Stroke
-   Menyebutkan penyebab dari penyakit Stroke 
-   Menyebutkan faktor resiko terjadinya penyakit Stroke 
-   Menyebutkan Klasifikasi dari penyakit Stroke 
-   Menyebutkan cara penatalaksanaan terhadap penyakit Stroke 
-   Menyebutkan komplikasi Stroke
B.     Strategi
  1. Apersepsi : waktu 5 menit
-   Memberi salam
-   Memperkenalkan diri
-   Menyampaikan tujuan penyuluhan
  1. Pelaksanaan : waktu 20 menit
-   Menyebutkan pengertian dari penyakit Stroke
-   Menyebutkan penyebab dari penyakit Stroke 
-   Menyebutkan faktor resiko terjadinya penyakit Stroke 
-   Menyebutkan Klasifikasi dari penyakit Stroke 
-   Menyebutkan cara penatalaksanaan terhadap penyakit Stroke 
-   Menyebutkan komplikasi Stroke 
  1. Penutup : waktu 5 menit
-   Kesimpulan
-   Saran / tanya jawab
C.    Materi
1.      Pengertian Stroke 
2.      Penyebab Stroke 
3.      Faktor resiko terjadinya penyakit Stroke 
4.      Klasifikasi dari penyakit Stroke 
5.      Cara penatalaksanaan terhadap penyakit Stroke 
6.      Menyebutkan komplikasi Stroke
D.    Metode     : Ceramah, diskusi dan tanya jawab
E.     Media       : Flipchart dan leaflet
F.     Evaluasi    : Tanya jawab

Materi

DEFINISI
Cedera serebrovaskular atau stroke meliputi awitan tiba-tiba defisit neurologis karena insufisiensi suplai darah ke suatu bagian dari otak. Insufisiensi suplai darah disebabkan oleh trombus, biasanya sekunder terhadap arterisklerosis, terhadap embolisme berasal dari tempat lain dalam tubuh, atau terhadap perdarahan akibat ruptur arteri (aneurisma)(Lynda Juall Carpenito, 1995).

Etiologi
Beberapa keadaan dibawah ini dapat menyebabkan stroke antara lain :
1.      Thrombosis Cerebral.
Thrombosis ini terjadi pada pembuluh darah yang mengalami oklusi sehingga menyebabkan iskemi jaringan otak yang dapa menimbulkan oedema dan kongesti di sekitarnya.Thrombosis biasanya terjadi pada orang tua yang sedang tidur atau bangun tidur. Hal ini dapat terjadi karena penurunan aktivitas simpatis dan penurunan tekanan darah yang dapat menyebabkan iskemi serebral.Tanda dan gejala neurologis seringkali memburuk pada 48 jam setelah thrombosis.

Beberapa keadaan dibawah ini dapat menyebabkan thrombosis otak :
a.  Atherosklerosis
Atherosklerosis  adalah mengerasnya pembuluh darah serta berkurangnya kelenturan atau elastisitas dinding pembuluh darah. Manifestasi klinis atherosklerosis bermacam-macam. Kerusakan dapat terjadi melalui mekanisme berikut :
§  Lumen arteri menyempit dan mengakibatkan berkurangnya aliran darah.
§  Oklusi mendadak pembuluh darah  karena terjadi thrombosis.
§  Merupakan tempat terbentuknya thrombus, kemudian melepaskan kepingan thrombus (embolus)
§  Dinding arteri menjadi lemah dan terjadi aneurisma kemudian robek dan terjadi perdarahan.

b. Hypercoagulasi pada polysitemia
Darah bertambah kental , peningkatan viskositas /hematokrit meningkat dapat melambatkan aliran darah serebral.
c. Arteritis( radang pada arteri )

2.      Emboli
Emboli serebral merupakan penyumbatan pembuluh darah otak oleh bekuan darah, lemak dan udara. Pada umumnya emboli berasal dari thrombus di jantung yang terlepas dan menyumbat sistem arteri serebral. Emboli tersebut berlangsung cepat dan gejala timbul kurang dari 10-30 detik. Beberapa keadaan dibawah ini dapat menimbulkan emboli :
a.       Katup-katup jantung yang rusak akibat Rheumatik Heart Desease.(RHD)
b.      Myokard infark
c.     Fibrilasi,. Keadaan aritmia menyebabkan berbagai bentuk pengosongan ventrikel sehingga darah terbentuk gumpalan kecil dan sewaktu-waktu kosong sama sekali dengan mengeluarkan embolus-embolus kecil.
d.      Endokarditis oleh bakteri dan non bakteri, menyebabkan terbentuknya gumpalan-gumpalan pada endocardium.

3.      Haemorhagi
Perdarahan intrakranial atau intraserebral termasuk perdarahan dalam ruang subarachnoid atau kedalam jaringan otak sendiri. Perdarahan ini dapat terjadi karena atherosklerosis dan hypertensi. Akibat pecahnya pembuluh darah otak menyebabkan perembesan darah kedalam parenkim otak yang dapat mengakibatkan penekanan, pergeseran dan pemisahan jaringan otak yang berdekatan ,sehingga otak akan membengkak, jaringan otak tertekan, sehingga terjadi infark otak, oedema, dan mungkin herniasi otak.



4.      Hypoksia Umum
a.       Hipertensi yang parah.
b.      Cardiac Pulmonary Arrest
c.       Cardiac output turun akibat aritmia

5.      Hipoksia setempat
a.       Spasme arteri serebral , yang disertai perdarahan subarachnoid.
b.      Vasokontriksi arteri otak disertai sakit kepala migrain.

FAKTOR RESIKO
Faktor-faktor resiko stroke dapat dikelompokan sebagai berikut ::
1.      Akibat adanya kerusakan pada arteri, yairtu usia, hipertensi dan DM.
2.      Penyebab timbulnya thrombosis, polisitemia.
3.      Penyebab emboli MCI. Kelainan katup, heart tidak teratur atau jenis penyakit jantung lainnya.
4.      Penyebab haemorhagic, tekanan darah terlalu tinggi, aneurisma pada arteri dan penurunan faktor pembekuan darah (leukemia, pengobatan dengan anti koagulan )
5.      Bukti-bukti yang menyatakan telah terjadi kerusakan  pembuluh darah arteri sebelumnya : penyakit jantung angina, TIA., suplai darah menurun  pada ektremitas.

Kemudian ada yang menunjukan bahwa yang selama ini dianggap berperan dalam meningkatkan prevalensi  stroke ternyata tidak ditemukan pada penelitian tersebut diantaranya, adalah:
1.      Merokok, memang merokok dapat merusak arteri tetapi tidak ada bukti kaitan antara keduanya itu.
2.      Latihan, orang mengatakan bahwa latihan dapat mengurangi resiko terjadinya stroke. Namun dalam penelitian tersebut tidak ada bukti yang menyatakan hal tersebut berkaitan  secara langsung. Walaupun memang latihan yang terlalu berat dapat menimbulkan MCI.
3.      Seks dan seksual intercouse, pria dan wanita mempunyai resiko yang sama terkena serangan stroke tetapi untuk MCI jelas pria lebih banyak daripada wanita.
4.      Obesitas. Dinyatakan kegemukan menimbulkan resiko yang lebih besar, namun tidak ada bukti secara medis yang menyatakan hal ini.
5.      Riwayat keluarga.

KLASIFIKASI:

Stroke dapat diklasifikasikan menurut patologi dan gejala kliniknya, yaitu :

a.    Stroke Haemorhagi,

Merupakan perdarahan serebral dan mungkin perdarahan subarachnoid. Disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada daerah otak tertentu. Biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas atau saat aktif, namun bisa juga terjadi saat istirahat. Kesadaran pasien umumnya menurun.

b.    Stroke Non Haemorhagic

Dapat berupa iskemia atau emboli dan thrombosis serebral, biasanya terjadi saat setelah lama beristirahat, baru bangun tidur atau di pagi hari. Tidak terjadi perdarahan namun terjadi iskemia yang menimbulkan hipoksia dan selanjutnya dapat timbul edema sekunder . Kesadaran umummnya baik.

Perbedaan perdarahan Intra Serebral(PIS) dan Perdarahan Sub Arachnoid (PSA)

Gejala
PIS
PSA
Timbulnya
Nyeri Kepala
Kesadaran
Kejang
Tanda rangsangan Meningeal.
Hemiparese
Gangguan saraf otak
Dalam 1 jam
Hebat
Menurun
Umum
+/-

++
+
1-2 menit
Sangat hebat
Menurun sementara
Sering fokal
+++

+/-
+++


Jika dilihat bagian hemisfer yang terkena tanda dan gejala dapat berupa:
1.      Stroke hemisfer Kanan
a.      Hemiparese sebelah kiri tubuh.
b.      Penilaian buruk
c.Mempunyai kerentanan terhadap sisi kolateral sehingga kemungkinan terjatuh ke sisi yang berlawanan tersebut.
2.      Stroke yang Hemifer kiri
  1. Mengalami hemiparese kanan
  2. Perilaku lambat dan sangat hati-hati
  3. Kelainan bidang pandang sebelah kanan.
  4. Disfagia global
  5. Afasia
  6. Mudah frustasi
Penatalaksanaan Stroke
Untuk mengobati keadaan akut perlu diperhatikan faktor-faktor kritis sebagai berikut 1. Berusaha menstabilkan tanda-tanda vital dengan :
a.       Mempertahankan saluran nafas yang paten yaitu lakukan pengisapan lendiryang sering, oksigenasi, kalau perlu lakukan trakeostomi, membantu pernafasan.
b.      Mengontrol tekanan darah berdasarkan kondisi pasien, termasuk usaha memperbaiki hipotensi dan hipertensi.
1.      Berusaha menemukan dan memperbaiki aritmia jantung.
2.      Merawat kandung kemih, sedapat mungkin jangan memakai kateter.
3.      Menempatkan pasien dalam posisi yang tepat, harus dilakukan secepat mungkin pasien harus dirubah posisi tiap 2 jam dan dilakukan latihan-latihan gerak pasif.

Pengobatan Konservatif
1.      Vasodilator meningkatkan aliran darah serebral ( ADS ) secara percobaan, tetapi maknanya :pada tubuh manusia belum dapat dibuktikan.
2.      Dapat diberikan histamin, aminophilin, asetazolamid, papaverin intra arterial.
3.      Anti agregasi thrombosis seperti aspirin digunakan untuk menghambat reaksi pelepasan agregasi thrombosis yang terjadi sesudah ulserasi alteroma.

Pengobatan Pembedahan
Tujuan utama adalah memperbaiki aliran darah serebral :
1.      Endosterektomi karotis membentuk kembali arteri karotis , yaitu dengan membuka arteri karotis di leher.
2.      Revaskularisasi terutama merupakan tindakan pembedahan dan manfaatnya paling dirasakan oleh pasien TIA.
3.      Evaluasi bekuan darah dilakukan pada stroke akut
4.      Ugasi arteri karotis komunis di leher khususnya pada aneurisma.

Komplikasi
Setelah mengalami stroke pasien mungkin akan mengalmi komplikasi , komplikasi ini dapat dikelompokan berdasarkan:
1.      Berhubungan dengan immobilisasi ; infeksi pernafasan, nyeri pada daerah tertekan, konstipasi dan thromboflebitis.
2.      Berhubungan dengan paralisis: nyeri pada daerah punggung, dislokasi sendi, deformitas dan terjatuh
3.      Berhubungan dengan kerusakan otak : epilepsi dansakit kepala.
4.      Hidrocephalus

Daftar Pustaka


Hudak & Gallo, 1987, Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik ( terjemahan ), Edisi VI, Volume II. Penerbit Buku Kedokteran  EGC, Jakarta

Made Kariasa 1997. Patofisiologi Beberapa Gangguan Neurologi,,
Hand Out Kursus Keperawatan Neurologi, Fakultas Ilmu Keperawatan UI. Jakarta.

Sylvia A. Price, 1995. Patofiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.Edisi 4.Buku 1. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar